Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

Bukankah Nabi Muhammad saw. adalah dari golongan manusia, lalu apa bukti bahwa beliau suci dari dosa, lupa dan salah?


Penyelesaian:

Ismah atau kesucian dari dosa dan salah adalah satu di antara sekian syarat kenabian; sebab, tanpa ismah maka tujuan dari kenabian yang tiada lain adalah pemberian hidayah atau petunjuk jalan terhadap manusia tidak akan tercapai. Untuk itu, prinsip keharusan ismah bagi nabi telah disepakati oleh seluruh umat Islam, bahkan oleh semua pengikut agama samawi, dan dalam hal ini perbedaan bendapat mereka hanya berkisar pada skala dan batasan prinsip tersebut. Syi'ah Imamiah mendukung makna ismah yang tertinggi bagi para nabi, yaitu konsep ismah yang mencakup tahapan-tahapan berikut:
1- Ismah dalam proses penerimaan wahyu, penjagaan dan sekaligus penyampaiannya;
2- Kesucian dari dosa yang berarti meninggalkan tugas wajib atau melanggar batas haram;
3- Kesucian dari salah dalam mengenali subjek hukum Tuhan;
4- Kesucian dari salah dalam mengetahui maslahat atau bahaya umum;
5- Kesucian dari salah dalam hal-hal biasa yang lumrah terjadi pada kehidupan pribadi seorang manusia.
Keharusan ismah pada tahapan pertama adalah gamblang sekali, mengingat bahwa filsafat pertama kenabian adalah penyampaian ajaran dan hukum Tuhan kepada umat manusia, maka sudah barang tentu hal ini tergantung sekali pada kesucian seorang nabi dalam menerima, menjaga dan menyampaikan wahyu Ilahi.
Keharusan ismah pada tahapan yang kedua, khususnya pada periode kenabian seorang nabi, juga jelas; karena, kemungkinan terjadinya dosa pada diri seorang nabi akan menimbulkan keguncangan psikologis dan intelektual pada umat yang menjadi sasarannya. Kemungkinan itu sendiri sudah cukup untuk merusak kepercayaan masyarakat terhadap dia dan otomatis sepak terjang dia –yang semestinya merupakan salah satu metode pemberian hidayah terhadap umat- gugur dari otoritas yang diperlukan dalam misi kenabian.
Adapun ismah pra-kenabian para nabi diperlukan karena secara psikologis orang yang tidak mempunyai latar belakang baik tidak akan pula mempunyai daya tarik sambutan publik yang memadai sehingga patut untuk duduk pada posisi sebagai pembina spiritual bagi masyarakat, maka tentunya dia juga tidak mempunyai kelayakan diri untuk diutus sebagai nabi.
Lalu, keharusan ismah nabi di selain tiga tahapan tersebut adalah karena kepercayaan yang sempurna dan menyeluruh terhadap perkataan dan tindakan dia tergantung sekali pada keyakinan masyarakat bahwa dia terjaga atau suci dari segala bentuk kesalahan yang terangkum dalam tahapan keempat dan kelima. Dengan kata lain, seorang nabi harus senantiasa mendapatkan perhatian dan karunia yang istimewa dari Tuhan di semua aspek dan jenjang kehidupannya.
Tentu secara logis tidak ada implikasi antara non-ismah dalam hal-hal biasa dengan non-ismah dalam hal-hal yang terkait dengan kepemimpinan religius dan spiritual manusia. Namun, perbedaan logis yang tipis ini tidak begitu terasa bagi akal dan pemahaman manusia biasa. Itulah sebabnya betapa tidak non-ismah nabi dalam hal ini merusak kepercayaan masyarakat terhadap beliau dalam hal-hal yang lain sehingga bertentangan dengan maksud dari misi kenabian.
Paparan di atas adalah uraian atas kalimat singkat Khajeh Nasirudin Thusi tentang keharusan ismah bagi para nabi, 'nabi harus maksum, agar ada kepercayaan, sehingga tujuan pun tercapai.’ [1]
Dari paparan di atas juga bisa ditarik kesimpulan bahwa hipotesis nabi lupa tidak bisa dibenarkan, baik itu lupa dalam tutur kata maupun lupa dalam perbuatan, baik itu lupa dalam tuntunan Ilahi maupun lupa dalam hal sehari-hari. Sebab, lupa dalam kasus tertentu akan mengurangi nilai penyampaian pesan Tuhan oleh utusan-Nya, bahkan sangat mungkin bertentangan dengan kepercayaan yang harus ada pada bab kenabian. Fadhil Miqdad mengatakan:
'Sama sekali nabi tidak boleh lupa, baik dalam kerangka syariat maupun di luar itu. Kenapa tidak boleh lupa dalam kerangka syariat, karena hal itu berarti adanya kemungkinan dia tidak menyampaikan semua yang diperintahkan –oleh Tuhan-, sehingga tujuan dari kenabian pun tidak akan tercapai. Adapun kenapa nabi tidak boleh lupa bahkan di luar kerangka penyampaian misi Ilahi, karena hal itu membuat masyarakat sekelilingnya acuh tak acuh terhadap dia dan kepercayaan mereka terhadapnya menjadi tipis.’ [2]
Inilah konsep yang diyakini oleh mayoritas mutlak ulama Syi'ah Imamiah. Adapun menurut ulama Ahli Sunnah dan sebagian kecil ulama Syi'ah, boleh-boleh saja nabi lupa. Keragaman pendapat inilah yang kemudian mengundang bab tersendiri di dalam buku-buku akidah atas nama 'Sahwun Nabi’. Di kalangan Syi'ah, tokoh paling terkemuka yang mendukung pendapat nabi boleh lupa adalah Syekh Shaduq, penekanan dia terhadap pendapat ini telah sampai batas mengklaim orang yang berpendapat sebaliknya sebagai kelompok Ghulat (kelompok yang berlebih-lebihan dan keluar dari jalan yang lurus). Dasar yang diajukannya dalam hal ini adalah hadis-hadis yang meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw. pernah lupa soal rakaat shalat dzuhur atau qadha shalat shubuh. [3]
Meskipun dari sudut pandang sanad atau silsilah periwayat sebagian dari hadis itu sahih dan patut diperhitungkan, akan tetapi mayoritas ulama Syi'ah tidak mempercayainya, alasan mereka adalah ismah para nabi dari lupa –sebagaimana paparan di atas- merupakan keniscayaan rasional, sementara hadis-hadis itu hanya sebatas khabar wahid dan bukti tekstual yang tidak pasti (dalil dzanni), dan sudah barang tentu bukti yang tidak pasti tidak mampu melawan bukti rasional yang pasti, apalagi persoalan ini –meskipun kasus lupa yang tertera di dalam hadis berkaitan dengan hal-hal cabang agama, namun dari sisi yang lain hal itu merupakan salah satu sifat nabi- masuk kategori akidah yang hanya menerima bukti-bukti pasti dan menangguhkan bukti-bukti yang tidak pasti. Itulah sebabnya Syahid Awal di dalam kitab "Al-Dzikrô”, setelah mensinyalir hadis Dzul Yadain [4] mengatakan, 'di kalangan Syi'ah Imamiah, hadis ini ditinggalkan, karena bukti rasional –yang pasti- menunjukkan ismah atau kesucian nabi dari lupa.’ [5]
Selain itu, menurut mayoritas ulama Syi'ah Imamiah, hadis yang diajukan sebagai bukti bahwa nabi pernah lupa bertentangan dengan sejumlah besar hadis yang membuktikan beliau tidak mungkin lupa. Hadis-hadis itu telah disusun rapi oleh pakar hadis Syi'ah, Syekh Hur Amili di dalam kitab yang secara khusus dia tulis untuk itu. [6]
Di samping jumlahnya yang besar, kelompok hadis Syi'ah tentang nabi pernah lupa seirama dengan hadis-hadis Ahli Sunnah dalam bab ini, dan keseiramaan ini sendiri –menurut mereka- pertanda lain akan lemahnya kelompok hadis tersebut, dan sebaliknya pertanda akan kuatnya kelompok hadis yang meriwayatkan nabi tidak mungkin lupa. Dengan demikian, keyakinan bahwa Nabi saw. mungkin saja lupa dalam bersabda atau bertindak adalah tidak beralasan kuat dan tidak bisa diterima.
Perlu juga digarisbawahi dalam hal ini Syekh Shaduq menekankan bahwa lupa yang dialami oleh Nabi saw. berbeda dengan lupa yang dialami oleh manusia biasa, lupa beliau dari jenis nabi dan rahmani, yakni Allah swt. sengaja membuat beliau lupa agar masyarakat tidak berlebihan dalam memandang beliau bahkan menyembahnya, atau agar jangan sampai orang yang tertimpa lupa dalam shalat atau ibadahnya yang lain tidak dihina. Dengan garis bawah ini, Syekh Shaduq hendak menepis kemungkinan salah dan lupa dari jenis setanik dari kedudukan mulia Nabi saw. Namun demikian, tetap saja berdasarkan paparan di atas hipotesis nabi lupa tidak bisa diterima. [7]
Catatan lain yang mesti diketahui bahwa ternyata hadis-hadis Ahli Sunnah yang meriwayatkan pengalaman lupa Nabi saw. mempunyai berbagai cela yang menggugurkannya dari otoritas bukti dan betul-betul membuatnya patut dicurigai. Cela-cela itu adalah:
1- Menurut sebagian hadis tersebut, shalat yang konon Nabi saw. lupa di dalamnya adalah shalat dzuhur, sebagian lagi meriwayatkannya shalat ashar, dan sebagian yang lain menyebutnya antara dua shalat dzuhur dan ashar.
2- Menurut sebagian hadis tersebut, beliau lupa apakah baru satu rakaat yang beliau tunaikan atau lebih dari itu? Sebagian lagi meriwayatkan beliau lupa apakah shalat yang ditunaikannya kurang satu rakaat lagi atau tidak? Dan kebanyakan hadis-hadis itu menyebutkan beliau lupa antara kurang dua rakaat atau tidak?
3- Oleh hadis-hadis itu disebutkan bahwa ketika Dzul Yadain mengingatkan beliau akan lupanya, beliau tetap tidak mengerti, melainkan beliau bertanya lagi kepada orang-orang lain di sekitarnya dan mereka pun membenarkan teguran Dzul Yadain, sehingga pada akhirnya beliau menerima kalau tadi lupa. Masalah ini pun diselimuti oleh berbagai keraguan, dan kondisi seperti ini sama sekali tidak pantas bagi kedudukan seorang nabi.
4- Hadis-hadis itu juga simpang-siur soal kapan beliau diingatkan akan lupanya; menurut sebagian hadis tersebut beliau diingatkan langsung setelah shalat, sebagian lagi meriwayatkan ketika beliau sudah bangkit dari tempat shalat dan sedang menyandar ke salah satu tiang masjid, sebagian yang lain menyebutnya saat beliau sudah masuk kamar. Sudah barang tentu sebuah pengalaman terjadi hanya sekali tidak mungkin simpang-siur seperti itu.
5- Oleh sebagian hadis itu diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw. marah ketika diingatkan oleh Dzul Yadain akan lupanya. Tentu saja emosi ini sama sekali tidak sesuai dengan kedudukan seorang manusia sempurna dan nabi termulia yang disebut oleh Allah swt. dengan panggilan pemilik budi pekerti yang agung. [8]
Kita tahu silsilah kenabian dimulai dengan Nabi Adam as. dan diakhiri oleh Nabi Muhammad saw., soal kepenutupan beliau terhadap misi kenabian adalah sebuah keniscayaan di dalam agama Islam, itulah kenapa umat Islam menyepakatinya, dan kalau pun ada perbedaan di antara mereka hanyalah seputar cabang-cabang prinsip tersebut. Argumentasi rasional atas kenabian beliau adalah kesaksian sejarah yang pasti akan pengakuan beliau sebagai nabi, lalu beliau menunjukkan mukjizat untuk mendukung pengakuan itu dan menantang yang lain untuk menandingi mukjizat tersebut. Mukjizat yang disertai tantangan ini merupakan bukti yang tidak terbantahkan tentang kenabian beliau. Kitab suci Al-Qur'an adalah mukjizat terbesar beliau yang berkali-kali dan dengan berbagai cara beliau tantang khalayak manusia –bahkan juga jin- untuk menandinginya; terkadang beliau menantang mereka untuk membuat karya utuh sepertinya, [9] terkadang beliau menatang mereka untuk menandingi sepuluh surat saja darinya, [10] dan terkadang pula beliau menantang mereka untuk menandingi cukup satu surat saja darinya. [11] Semua orang, khususnya para pujangga dan sastrawan arab bukan saja menolak diri untuk memenuhi tantangan itu, melainkan sebagian dari mereka tunduk dan menyatakan bahwa Al-Qur'an jauh lebih unggul dari tutur kata manusia. Namun, karena dampak fanatisme jahiliyah bukannya mereka mengimani kenabian beliau, sebaliknya mereka menyebut firman-firman itu sebagai sihir dan dengan perantara tuduhan-tuduhan seperti itu mereka berusaha menjauhkan masyarakat darinya.
Penerjemah: Nasir Dimyati (Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

1. Tajrîd Al-I‘tiqôd, judul pembahasan 'kenabian'.
2. Irsyâd Al-Thôlibîn, hal. 305.
3. Man Lâ Yahdhuruhu Al-Faqîh, jilid 1, hal. 360; Al-Kâfî, jilid 3, hal. 355, bab tentang orang yang berbicara di waktu shalat, hadis yang pertama.
4. Sepertinya, orang yang konon menurut hadis-hadis itu mengingatkan Nabi Muhammad saw. akan lupanya dalam shalat mempunyai dua tangan yang panjang melebihi normal, itulah kenapa kemudian dia lebih dikenal dengan julukan Dzul Yadain.
5. Al-Dzikrô, hal. 134.
6. Al-Tanbîh bi Al-Ma‘lûm min Al-Burhân ‘alâ Tanzîh Al-Ma‘sûm ‘an Al-Sahwi wa Al-Nisyân.
7. Untuk informasi lebih lanjut mengenai masalah ini, lihatlah kitab Haq Al-Yaqîn karya Allamah Syubbar, jilid 1, hal. 93 – 97; Al-Tanbîh karya Syekh Hur Amili.
8. Lihatlah: Al-Ilâhiyât ‘alâ Hudâ Al-Kitâb wa Al-Sunnah wa Al-‘Aql, jilid 2, hal. 194 – 196.
9. QS. Al-Isra': 88; At-Thur: 34.
10. QS. Hud: 13.
11. QS. Al-Baqarah: 23; Yunus: 38.



Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
5+4 =