Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

Apakah 'Mahdi' merupakan nama buatan kelompok Syi'ah (Aliran Wilayah) atau bahkan nama besar itu terdapat juga di dalam referensi kelompok-kelompok yang lain? Apa pandangan kelompok Ahli Sunnah (Aliran Khilafah) mengenai persoalan ini?


Penyelesaian:

Sekilas pandang atas hadis-hadis tentang Imam Mahdi af. yang tertera di dalam literatur umat Islam sudah cukup untuk menimbulkan keyakinan akan status hadis-hadis tersebut yang secara mutawatir diriwayatkan dari Rasulullah saw., bahkan dalam hal ini tidak ada keraguan sedikit pun. Namun, mengingat penghitungan seluruh hadis tentang Imam Mahdi af. di luar kapasitas tulisan ini, maka kami hanya akan menyinggung beberapa hal mengenai kepastian hadis-hadis itu dari sisi Rasulullah saw.
Sungguh bukan berlebihan jika dikatakan bahwa tidak ada satu pun dari ahli hadis muslim yang melewatkan hadis pemberi berita gembira akan munculnya Imam Mahdi af. di akhir zaman. Dalam hal ini, banyak sekali buku yang mensinyalirnya. [1]
Berikut ini kami akan menyinggung sejumlah ulama dan ahli hadis beserta karya-karya mereka menyangkut Imam Mahdi af.:

1- Ulama dan ahli hadis dari kelompok Ahli Sunnah

Sejauh penelitian kami, ulama dan ahli hadis dari kalangan Ahli Sunnah yang menukil hadis-hadis tentang Imam Mahdi af. di dalam karya mereka adalah:
Ibnu Sa'ad penulis buku "Al-Thobaqôt Al-Kubrô" (w. 230 H.), Ibnu Abi Syaibah (w. 235 H.) Ahmad bin Hanbal (w. 241 H.), Bukhari (w. 256 H.) yang hanya menyebutkan sifat-sifat Imam Mahdi af. tanpa menyebutkan nama beliau, Muslim (w. 261 H.) yang mengikuti jejak Bukhari dalam menyebutkan sifat tanpa nama, Abu Bakar Iskafi (w. 260 H.), Ibnu Majah (w. 273 H.) Abu Dawud (w. 275 H. Ibnu Qutaibah Dainawari (w. 276 H.), Tirmidzi (w. 279 H.) Bazzar (w. 292 H.), Abu Ya'la Museli (w. 307 H.), Thabari (w. 310 H.), Aqili (w. 322 H.), Na'im bin Hamad (w. 328 H.), Barbahari (w. 329 H.) di dalam kitab "Syarh Al-Sunnah", Ibnu Habban Busti (w. 354 H.), Maqdisi (w. 355 H.), Thabrani (w. 360 H.), Abu Hasan Abiri (w. 363 H.), Daru Quthni (w. 385 H.), Khattabi (w. 388 H.), Hakim Nisyaburi (w. 405 H.), Abu Na'im Isfahani (w. 443 H.), Abu Amr Dani (w. 444 H.), Baihaqi (w. 458 H.), Khatib Baghdadi (w. 463 H.), Ibnu Abdi Bar Maliki (w. 463 H.), Dailami (w. 509 H.), Baghawi (w. 510 atau menurut versi lain 516 H.), Qadhi Iyadh (w. 544 H.), Kharazmi Hanafi (w. 568 H.), Ibnu Asakir (w. 571 H.), Ibnu Jauzi (w. 597 H.), Ibnu Atsir Jazri (w. 606 H.), Ibnu Arabi (w. 638 H.), Muhammad bin Thalhah Syafi'i (w. 652 H.), Allamah cucu Ibnu Jauzi (w. 654 H.), Ibnu Abilhadid Muktazili Hanafi (w. 655 H.), Mundziri (w. 656 H.), Kunji Syafi'i (w. 658 H.), Qurthubi Maliki (w. 671 H.), Ibnu Khallakan (w. 681 H.), Muhibudin Thabari (w. 694 H.), Allamah bin Mandzur (w. 711 H.) tepatnya pada pokok kata "ha-di-ya" di dalam kitab "Lisân Al-'Arob", Ibnu Taimiyah (w. 728 H.), Juwaini Syafi'i (w. 730 H.), Alaudin bin Bilban (w. 739 H.), Waliudin Tabrizi (w. di atas tahun 741 H.), Mazzi (w. 739 H.), Dzahabi (w. 748 H.), Ibnu Wardi (w. 749 H.), Zerandi Hanafi (w. 750 H.), Ibnu Qayim Jauzi (w. 751 H.), Ibnu Katsir (w. 774 H.), Sa'adudin Taftazani (w. 793 H.), Nurudin Haitsami (w. 807 H.) Ibnu Khaldun Maghribi (w. 808 H.) yang menurutnya ada empat hadis tentang Imam Mahdi af. yang sahih dan berharga, Syekh Muhammad Jazri Damesyqi Syafi'i (w. 833 H.), Abu Bakar Bushiri (w. 840 H.), Ibnu Hajar Asqalani (w. 852 H.), Sakhawi (w. 902 H.) Suyuthi (w. 911 H.), Sya'rani (w. 973 H.) Ibnu Hajar Haitami (w. 974 H.), Muttaqi Hindi (w. 975 H.) ... sampai dengan ulama mutaakhir seperti:
Syekh Mar'i Hanbali (w. 1033 H.), Muhammad Rasul Barzanji (w. 1103 H.), Zarqani (w. 1122 H.), Muhammad bin Qasim Faqih Maliki (w. 1182 H.), Abu 'Ala' Iraqi Maghribi (w. 1183 H.), Safariyini Hanbali (w. 1188 H.), Zubaidi Hanafi (w. 1205 H.) di dalam kitab "Tâj Al-'Arûs", pokok kata "ha-di-ya", Syekh Shabban (w. 1206 H.), Muhammad Amin Suwaidi (w. 1246 H.), Syaukani (w. 1250 H.), Mukmin Syablanji (w. 1291 H.), Ahmad Zaini Dahlan; pakar fikih dan ahli hadis yang bermazhab Syafi'i (w. 1304 H.), Sayid Muhammad Siddiq Qanuji Bukhari (w. 1307 H.), Syihabudin Halwani Syafi'i (w. 1308 H.), Abu Barakat Alusi Hanafi (w. 1317 H.), Abu Thayib Muhammad Syamsulhaq Adzim Abadi (w. 1329 H.), Katani Maliki (w. 1345 H.), Mubarakfuri (w. 1353 H.), Syekh Mansur Ali Nasif (w. di atas tahun 1371 H.), Syekh Muhammad Khidhir Husain Mesri (w. 1377 H.), Abu Faidh Ghimari Syafi'i (w. 1380 H.), pakar fikih yang netral dan mufti kota Najd Syekh Muhammad bin Abdulaziz Mani' (w. 1358 H.), Syekh Muhammad Fu'ad Abdulbaqi (w. 1388 H.), Abula'la Maududi dan Nasirudin Albani serta ulama kontemporer lainnya.
Dan apabila kita tambahkan para mufasir Al-Qur'an dari kelompok Ahli Sunnah ke dalam daftar nama ini, niscaya akan menjadi lebih jelas betapa dalamnya keserasian hadis-hadis tentang Imam Mahdi af.

2- Ulama dan ahli hadis dari kelompok Syi'ah

Pada kesempatan ini, menurut hemat kami tidak penting menyebutkan nama-nama ulama dan ahli hadis serta mufasir dari kelompok Syi'ah yang mencatat atau meriwayatkan hadis-hadis tentang Imam Mahdi af., karena keyakinan atas munculnya Imam Mahdi af. merupakan salah satu dasar keyakinan Mazhab Syi'ah. Untuk itu, pada kesempatan kali ini kami tidak memandang perlu menyebutkan nama-nama berikut karya-karya mereka dan langsung saja melangkah ke titik pembahasan yang selanjutnya.

Sahabat yang meriwayatkan hadis tentang Imam Mahdi af.

Mereka dari kalangan sahabat nabi yang meriwayatkan hadis tentang Imam Mahdi af. dari Rasulullah saw., atau mereka yang hadisnya bersambung sampai tingkat sahabat tapi tetap berkategori Hadis Marfu' –karena, tidak mungkin hadis itu mereka lontarkan atas dasar ijtihad pribadi- adalah banyak sekali, kalaupun periwayatan hadis-hadis itu terbukti dari sepersepuluh dari jumlah mereka, maka itu sudah cukup untuk membuktikan status mutawatir hadis-hadis tersebut. Dan ini baru dari literatur kelompok Ahli Sunnah dan belum mengikutsertakan literatur kelompok Syi'ah.
Periwayat-periwayat itu adalah:
Fatimah Zahra as. (w. 11 H.), Mu'adz bin Jabal (w. 18 H.), Qatadah bin Nukman (w. 23 H.), Umar bin Khattab (w. 23 H.), Abu Dzar Ghifari (w. 32 H.), Abbas bin Abdulmuttalib (w. 32 H.), Abdurrahman bin Auf (w. 32 H.), Usman bin Affan (w. 35 H.), Salman Farisi (w. 36 H.), Thalhah bin Abdillah (w. 36 H.), Hudzaifah bin Yaman (w. 36 H.), Ammar bin Yasir (w. 37 H.), Imam Ali bin Abi Thalib as. (w. 40 H.), Zaid bin Tsabit (w. 45 H.), Tamim Dari (w. 50 H.), Imam Hasan bin Ali as. (w. 50 H.), Abdurrahman bin Samrah (w. 50 H.), Majma' bin Jariah (w. 50 H.), Imran bin Hashin (w. 52 H.), Abu Ayyub Anshari (w. 52 H.), Tsauban budak Rasulullah saw. (w. 54 H.), Aisyah (w. 58 H.), Abu Hurairah (w. 59 H.), Imam Husain bin Ali as. (w. 61 H.) Alqamah bin Qais bin Abdullah (w. 62 H.), Ummu Salamah (w. 63 H.), Abdullah bin Umar (w. 65 H.), Abdullah bin Amr bin As (w. 65 H.), Abdullah bin Abbas (w. 68 H.), Zaid bin Arqam (w. 68 H.), Auf bin Malik (w. 73 H.), Abu Sa'id Khudri (w. 74 H.), Jabir bin Samurah (w. 74 H.), Jabir bin Abdillah Anshari (w. 78 H.), Abdullah bin Ja'far Tayyar (w. 80 H.), Abu Umamah Bahili (w. 81 H.), Busyr bin Mundzir bin Jarud bin Amr (w. 20 H.), Abdullah bin Haris bin Juz Zubaidi (w. 86 H.), Sahl bin Sa'ad Sa'idi (w. 91 H.), Anas bin Malik (w. 93 H.), Abu Thufail (w. 100 H.) dan lain-lain yang belum dapat kami temukan tanggal kematian mereka, seperti Ummu Habibah, Abu Jahhaf, Abu Salma, Abu Laili, Abu Wa'il, Hudzaifah bin Usaid, Hars bin Rabi', Abu Qatadah Anshari, Zar bin Abdullah, Zurarah bin Abdillah, Abdullah bin Abi Aufa, Ala' bin Busyair Muzni, Ali Hilali, Qurrah bin Ayas dan Amr bin Murrah Juhani.

Jalur Periwayatan hadis tentang Imam Mahdi af. di dalam literatur hadis Ahli Sunnah

Dosen Universitas Al-Azhar Mesir, Sayid Ahmad bin Muhammad bin Siddiq, Abu Faidh Ghimari Hasani Syafi'i Maghribi (w. 1380 H.) di dalam buku populernya yang berjudul "Ibrôz Al-Wahm Al-Maknûn min Kalâm Ibn Kholdûn" mengupas tema ini secara gamblang. Di dalam buku ini, dia mengajukan bukti-bukti status mutawatir hadis tentang Imam Mahdi af. yang tidak pernah diajukan oleh satu pun penulis Ahli Sunnah sebelumnya. Dia menulis buku ini dalam rangka menjawab sanggahan dan tuduhan Ibnu Khaldun mengenai Imam Mahdi af. yang seringkali menjadi pedoman bagi para cendekiawan semasa Abu Faidh, seperti Ahmad Amin, Farid Wajdi dan lain sebagainya.
Ada baiknya kita menyusuri walau sekilas jalur-jalur periwayatan yang dia uraikan secara spesial di dalam bukunya tersebut sehingga menunjukkan kehebatan intelektual dia dalam meneliti sanad-sanad hadis tentang Imam Mahdi af. berdasarkan literatur Ahli Sunnah. Dia memulainya dari tingkat sahabat, lalu tabiin, tabiut tabiin dan para ahli hadis yang menukil hadis-hadis itu.
Abu Faidh mengatakan, 'selazimnya bahwa mustahil sekelompok perawi yang berjumlah 30 atau lebih di tingkat yang berbeda-beda kompak melakukan kebohongan, pemalsuan atau manipulasi sebuah data. Apalagi jika jumlah itu diperoleh melalui berbagai penelitian yang pernah dilakukan sampai detik ini.'
Dia menyebutkan kelompok periwayat hadis tentang Imam Mahdi af. sebagai berikut:
Abu Sa'id Khudri, Abdullah bin Mas'ud, Ali bin Abi Thalib as., Ummu Salamah, Tsauban, Abdullah bin Juz bin Haris Zubaidi, Abu Hurairah, Anas bin Malik, Jabir bin Abdillah Anshari, Qurrah bin Ayas Muzni, Abu Abbas, Ummu Habibah, Abu Umamah, Abdullah bin Amr Ash, Ammar Yasir, Abbas bin Abdilmuttalib, Husain bin Ali as., Tamim Dari, Abdurrahman bin Auf, Abdullah bin Umar bin Khattab, Thalhah, Ali Hilali, Imran bin Hashin, Amr bin Murrah Juhani, Mu'adz bin Jabal, dan hadis mursal Syahr bin Hausyab –yang tentunya tergolong hadis marfu' dan bukan maukuf atau maktu'-. [2]
Saudara Abu Faidh yang juga tergolong ulama Maroko menulis buku dengan judul "Al-Imâm Al-Mahdî" dan menambahkan tiga nama sahabat serta lima nama tabiin terhadap nama-nama yang disebutkan oleh buku saudaranya tersebut, kemudian dia memuat masing-masing riwayat mereka sehingga menyita setengah dari kapasitas bukunya.
Dengan demikian, banyak juga nama-nama yang dia lewatkan, seperti Fatimah Zahra as., Abu Ayyub Anshari, Abu Jahhaf, Abu Dzar Ghifari, Abu Salma, Abu Wa'il, Jabir bin Samrah, Jarud bin Mundzir Abdi, Hudzaifah bin Usaid, Hudzaifah bin Yaman, Hars bin Rabi', Imam Hasan Mujtaba as., Zar bin Abdullah, Zurarah bin Abdullah, Zaid bin Arqam, Zaid bin Tsabit, Sa'ad bin Malik, Salman Farisi, Sahal bin Sa'ad Sa'idi, Abdurrahman bin Samrah, Abdullah bin Abi Aufa, Abdullah bin Ja'far Thayyar, Usman bin Affan, Ala' bin Basyir, Alqamah bin Qais bin Abdullah, Umar bin Khattab, Auf bin Malik, Majma' bin Jariah, Hafshah binti Umar, dan Aisyah. [3]
Tetap saja Abu Faidh Ghimari terhitung berhasil meneliti hadis-hadis tentang Imam Mahdi af. yang diriwayatkan oleh para sahabat secara luas dan mendalam, bahkan dia juga telah menerangkan secara spesifik siapa saja muhadis yang menukil hadis-hadis para sahabat tersebut di dalam buku mereka.
Sebagai contoh, kami akan membawakan hadis Abu Sa'id Khudri –sahabat pertama yang disebutkan oleh Abu Faidh-. Abu Faidh mengatakan, 'hadis Abu Sa'id Khudri telah sampai kepada kita melalui jalur Abu Nadzroh, Abu Shiddiq Naji dan Hasan bin Yazid Sa'di.' Perinciannya adalah sebagai berikut:
1- Jalur periwayatan Abu Nadzrah dari Abu Sa'id Khudri
Abu Dawud dan Hakam meriwayatkan hadis Abu Sa'id Khudri melalui jalur Imran bin Qattan dari Abu Nadzrah. Sedangkan Muslim di dalam kitab "Shohîh" menukil hadis itu melalui jalur Sa'id bin Zaid dan Dawud bin Abi Hind yang mana dua-duanya meriwayatkan dari Abu Nadzrah. Namun, di dalam kitab Muslim hanya sifat-sifat Imam Mahdi af. yang disebutkan dan nama beliau tidak disebutkan.
2- Jalur periwayatan Abu Shiddiq Naji dari Abu Sa'id Khudri
Abdurrazaq dan Hakim meriwayatkan hadis Abu Sa'id Khudri melalui jalur Muawiyah bin Qurrah dari Abu Shiddiq, sedangkan Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majjah, dan Hakim menukil hadis ini melalui jalur Zaid Ami dari sumber yang sama, yaitu Abu Shiddiq, Ahmad dan Hakim juga menukilnya melalui jalur Auf bin Abi Jamilah A'rabi dari Abu Shiddiq, di samping itu Hakim meriwayatkannya dari jalur Sulaiman bin Ubaid dari Abu Shiddiq.
Ahmad dan Hakim juga meriwayatkannya dari jalur Mathar bin Thahman, Abu Harun Abdi dari Abu Shiddiq, bahkan Ahmad juga meriwayatkannya melalui Mathar bin Thahman dan Ala' bin Basyir Muzin serta Mathraf, dari Abu Shiddiq.
3- Jalur periwayatan Hasan bin Yazid dari Abu Sa'id Khudri
Thabrani di dalam kitab "Al-Ausath" meriwayatkan hadis itu melalui jalur Washil Abdu bin Hamid dari Abu Shiddiq Naji, dari Abu Sa'id Khudri. [4]
Oleh karena itu, ketika anda membuka karya sejarah Ibnu Khaldun maka anda dapat mengetahui betapa dia tidak mengetahui mayoritas jalur periwayatan hadis Abu Sa'id Khudri ini, dan ternyata hanya sebagian kecil dari jalur periwayatan itu yang dia sebutkan. Dan ini baru satu contoh dari hadis-hadis tersebut, sementara masih banyak sekali hadis yang lain dari sahabat nabi tentang Imam Mahdi af. yang tidak diketahui olehnya.
Kadar minimal yang disepakati oleh semua jalur periwayatan hadis Abu Sa'id Khudri ini adalah "kemunculan Imam Mahdi af. di akhir zaman". Dan sudah barang tentu, hanya dengan mengintip hadis-hadis tentang Imam Mahdi af. melalui jalur-jalur yang sampai kepada para sahabat nabi sudah cukup untuk sampai kepada sebuah keyakinan bahwa Rasulullah saw. betul-betul telah memberikan berita akan kemunculan Imam Mahdi af., bahkan seandainya saja masing-masing dari sahabat yang meriwayatkan hadis tentang Imam Mahdi af. tersebut sampai kepada kita hanya melalui satu jalur, tetap hal itu cukup untuk membuktikan status mutawatir bagi hadis Nabi saw. tentang Imam Mahdi af., karena jumlah sahabat nabi yang meriwayatkan hadis itu telah mencapai lima puluh orang.

Kesahihan hadis tentang Imam Mahdi af.

Dalam rangka membuktikan kesahihan hadis tentang Imam Mahdi af., kami akan menyebutkan beberapa contoh ulama terkemuka Ahli Sunnah yang secara tegas menyatakan hal tersebut. Di antaranya adalah:
1- Imam Tirmidzi (w. 279 H.). Dalam komentarnya mengenai tiga hadis tentang Imam Mahdi af. dia mengatakan, 'status hadis-hadis ini adalah hasan dan sahih.' [5]
2- Hafidz Abu Ja'far Aqili (w. 322 H.). Di sela-sela komentarnya akan sebuah hadis yang dha'if atau lemah, dia mengatakan, 'adapun mengenai Imam Mahdi af., banyak hadis-hadis autentik yang mempunyai ungkapan berbeda dengan ungkapan yang terkandung di dalam hadis ini.' [6]
3- Hakim Nisyaburi (w. 405 H.). Setelah menyebutkan empat hadis tentang Imam Mahdi af., dia mengatakan, 'sanad masing-masing dari hadis ini sahih, tapi mereka –Bukhari dan Muslim- tidak memuatnya.' [7]
Kemudian dia menyebutkan tiga hadis lagi seraya mengomentari, 'berdasarkan syarat-syarat atau tolok ukur yang ditetapkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, hadis-hadis ini adalah sahih, walaupun mereka tidak menukil tiga hadis tesebut di dalam kitab-kitab hadis mereka.' [8]
Demikian pula halnya dengan delapan hadis lain yang dia sebutkan setelah itu, dia menghukuminya sebagai hadis yang sahih berdasarkan tolok ukur Bukhari dan Muslim dalam penilaian hadis, meskipun mereka tidak menyebutkan hadis-hadis itu di dalam kitab mereka masing-masing. [9]
4- Imam Baihaqi (w. 458 H.) mengatakan, 'secara sanad, hadis-hadis tentang kebangkitan Mahdi adalah sahih dan sama sekali tidak bermasalah.' [10]
5- Imam Baghawi (w. 510 atau 516 H.) menempatkan hadis tentang Imam Mahdi af. di kelompok hadis yang sahih. [11] dia juga menempatkan lima hadis tentang itu di pasal hadis yang hasan. [12]
6- Ibnu Atsir (w. 606 H.). di dalam kitab "Al-Nihâyah" pokok kata ha-di-ya menerangkan bahwa, "hadis tentang sunnah Khulafa Rasyidin Mahdiyin juga termasuk dalam akar kata ini, mahdi yakni orang yang diberi hidayah atau petunjuk oleh Allah swt., kata mahdi juga digunakan sebagai nama, bahkan banyak sekali orang yang menggunakan nama ini untuk dirinya atau orang lain. Dan Mahdi Mau'ud yang dijanjikan kedatangannya di akhir zaman oleh Rasulullah saw. juga memiliki nama yang sama.' [13]
Pernyataan seperti ini tidak mungkin dikeluarkan oleh selain orang yang mempercayai kesahihan, bahkan kemutawatiran hadis-hadis tentang Imam Mahdi af.
7- Qurthubi Maliki (w. 671 H.). Dia juga termasuk ulama yang meyakini kemutawatiran hadis tentang Imam Mahdi af., dia mengomentari hadis Ibnu Majjah mengenai Imam Mahdi dengan berkata, 'sanad hadis ini sahih.' [14]
Menurutnya, hadis yang menyebutkan bahwa 'Mahdi adalah bagian dari keluargaku dan keturunan Fatimah.' adalah lebih sahih daripada hadis yang dibawakan oleh Muhamad bin Khalid Jundi. [15]
8- Ibnu Taimiyah (w. 728 H.). Dia mengatakan, 'hadis-hadis yang dia (Allamah Hilli) gunakan dalam rangka membuktikan kebangkitan Mahdi adalah hadis-hadis sahih.' [16]
9- Hafidz Dzahabi (w. 748 H.). Dia lebih memilih sikap tidak berkomentar ketika menghadapi hadis-hadis tentang Imam Mahdi af. yang dinyatakan sahih oleh Hakim Nisyaburi di dalam kitab Mustadrok-nya, tapi kemudian dia menyatakan dua di antara hadis-hadis itu adalah sahih. [17]
Perlu diketahui bahwa kritikan-kritikan tajam Dzahabi terhadap kesahihan sejumlah hadis di bab keutamaan, dan sikap diam dia di hadapan hadis-hadis lain yang dinilai sahih oleh Hakim Nisyaburi menunjukkan kesepakatan dia terhadap penilaian Hakim.
10- Ganji Syafi'i (w. 658 H.). Sehubungan dengan hadis tentang Imam Mahdi af. yang dicantumkan oleh Tirmidzi di dalam kitab Sunan-nya dan dinilainya sebagai hadis sahih, Ganji mengatakan, 'hadis ini memang sahih.' [18]
Dia menilai dua hadis 'Mahdi adalah dariku, dahinya lebar tak berbulu.' dan 'Mahdi adalah benar dan dari keturunan Fatimah.' sebagai hadis yang sahih dan hasan.
11- Hafidz Ibnu Qayim (w. 751 H.). Dia tergolong ulama yang meyakini kemutawatiran hadis tentang Imam Mahdi af. Setelah menyabutkan beberapa hadis yang terkait, dia menilai sebagiannya dengan sahih dan sebagian yang lain dengan hasan. [19]
12- Ibnu Katsir (w. 774 H.). Sehubungan dengan sanad sebuah hadis tentang Imam Mahdi af., dia berkomentar, 'sanad hadis ini kuat dan sahih.' [20] Kemudian dia menukil hadis serupa dari Ibnu Majjah dan berkomentar, 'hadis ini hasan, dan telah diriwayatkan dari Rasulullah saw. dalam bentuk yang berbeda-beda.' [21]
13- Taftazani (w. 793 H.). Prihal kebangkitan Imam Mahdi af. di akhir zaman dia mengatakan, 'banyak sekali hadis sahih yang menjelaskan persoalan ini[22].’
14- Nurudin Haitsami (w. 807 H.). Dia juga telah menukil hadis-hadis tentang Imam Mahdi af. dan mengakui kesahihan sanadnya. Contohnya, dia mengomentari salah satu riwayat itu dengan berkata, 'hadis ini telah diriwayatkan pula oleh Tirmidzi dan yang lain secara ringkas, Ahmad juga meriwayatkannya dengan sanad yang berbeda-beda, Abu Ya'la pun meriwayatkannya secara singkat. Intinya, para periwayat hadis ini adalah orang-orang yang terpercaya.' [23] Dia mengomentari hadis kedua yang dinukilnya dengan berkata, 'Thabrani telah menukil hadis ini di dalam kitab Al-Ausath, para periwayatnya pun terpercaya dan status hadis ini adalah sahih.' [24] Dan dia mengomentari hadis yang ketiga dengan pernyataan, 'semua perawi hadis ini adalah orang-orang yang terpercaya.' [25] Hadis yang keempat dia katakan, 'Bazzar telah menukil hadis ini, dan para periwayatnya dapat dipercaya.' [26] Begitu pula dengan hadis yang kelima.
15- Suyuthi (w. 911 H.). Dia memberikan alamat sahih pada sebagian hadis tentang Imam Mahdi af. dan alamat hasan pada sebagiannya yang lain. [27]
16- Syaukani (w. 1250 H.). Qanuji di dalam kitab Al-Idzâ‘ah menukil pendapat Syaukani soal kesahihan dan kemutawatiran hadis-hadis tentang Imam Mahdi af. Bahkan, dia sendiri telah menulis sebuah karya mengenai kemutawatiran hadis tersebut.
17- Nasirudin Albani. Di dalam karyanya yang berjudul "Haula Al-Mahdî" dia mengatakan, 'patut untuk diketahui bersama bahwa banyak hadis sahih yang membicarakan kebangkitan Mahdi, dan mayoritas hadis-hadis itu mempunyai sanad yang sahih.' Bahkan Albani sendiri tergolong ulama Ahli Sunnah yang menyatakan kemutawatiran hadis tentang Imam Mahdi af. [28]
Untuk sementara kami cukupkan sampai di sini saja pengakuan para ulama Ahli Sunnah ini dalam pokok persoalan kita sekarang, yaitu kesahihan hadis-hadis tentang Imam Mahdi af., namun jika anda menginginkan uraian lebih lanjut maka kami sarankan anda untuk membaca buku "Difâ‘ ‘an Al-Kâfî, jilid 1, hal. 343 – 405 yang menyebutkan lebih dari enam puluh pengakuan para ulama tentang masalah ini.

Kemutawatiran hadis tentang Imam Mahdi af.

Para ahli ilmu dirayah hadis, begitu pula para guru spesialis ilmu-ilmu hadis telah menyatakan kemutawatiran hadis-hadis tentang Imam Mahdi af. di dalam kitab-kitab induk hadis Ahli Sunnah –mencakup Shohîh, Sunan dan Musnad-. Tapi berhubung jumlah mereka terlampau banyak, maka di sini kami hanya akan menyebutkan sebagiannya saja:
1- Barbahari Hanbali (w. 329 H.). Syekh Mahmud Tuijari menukil dari kitab "Syarh Al-Sunnah" dan mengatakan, 'Keimanan atas turunnya Isa bin Maryam as. Dia akan turun dari langit ... dan shalat di belakang salah satu Ahli Bait Rasulullah saw. yang bangkit di akhir zaman.' [29]
Sudah barang tentu keimanan berarti kepercayaan atau keyakinan yang tidak mungkin terbukti hanya melalui khabar wahid atau satu hadis. Berarti, ada hadis yang mutawatir tentang persoalan ini sehingga disebutnya sebagai keimanan.
2- Muhammad bin Husain Abiri Syafi'i (w. 343 H.). Di dalam kitabnya yang berjudul "Manâqib As-Syâfi‘î" dia mengatakan, 'hadis-hadis Rasulullah saw. yang memberitakan datangnya Mahdi dan bahwasanya dia termasuk Ahli Bait, akan berumur 70 tahun, memenuhi bumi dengan keadilan, dan disertai dengan kemunculan Isa as. yang akan membantunya dalam membunuh Dajjal adalah mutawatir, karena jumlah perawinya yang sangat banyak.'
Pernyataan ini telah dinukil dari Abiri oleh Qurthubi Maliki di dalam kitab "Al-Tadzkiroh" halaman 701, Mazzi di dalam kitab "Tahdzîb Al-Kamâl" jilid 25 halaman 146 urutan ke-5181 yang membahas riwayat hidup Muhammad bin Khalid Jundi, begitu pula oleh Ibnu Qayim di dalam kitab "Al-Manâr Al-Munîf" halaman 142 urutan ke-327.
3- Qurthubi Maliki (w. 671 H.). Mulanya dia menukil ucapan Abiri yang tersebut di atas, lalu menilai hadis-hadis yang disebutkan di dalam kitab itu sebagai sahih, sehingga dengan itu dia telah membenarkan pertanyaan Abiri. Dalam keputusannya ini, Qurthubi bersandarkan pada ucapan Imam Hafidz Hakim Nisyaburi, 'ada hadis-hadis sahih dan jelas dari Rasulullah saw. yang menerangkan kebangkitan seorang lelaki dari Ahli Bait beliau dan keturunan Fatimah Zahra yang bernama Mahdi.' [30] Qurthubi juga ketika menafsirkan ayat 33 surat At-Taubah mengatakan, 'hadis-hadis sahih tentang Mahdi dari Ahli Bait Rasulullah saw. telah mencapai batas mutawatir.' [31]
4- Hafidz Jamaludin Mazzi (w. 742 H.). Dia berargumentasi dengan ucapan Abiri mengenai kemutawatiran hadis tentang Imam Mahdi, dan dia sama sekali tidak mengajukan kritik terhadapnya, melainkan dia menerima hal itu sebagai sesuatu yang telah disepakati oleh umum. [32]
5- Ibnu Qayim (w. 751 H.). Di sela-sela dukungannya terhadap pernyataan Abiri, dia membagi hadis-hadis tentang Imam Mahdi af. menjadi empat kelompok: hadis yang sahih, hadis hasan, hadis gharib atau langka, dan hadis palsu. [33] Lalu dia menjelaskan bahwa dua kelompok pertama berjumlah banyak sekali dan telah tersebar di mana-mana sehingga terhitung sebagai hadis yang mutawatir.
6- Ibnu Hajar Asqalani (w. 852 H.). Di kala menukil pernyataan para ulama prihal kemutawatiran hadis tentang Imam Mahdi af., [34] dia juga mendukung kesimpulan itu dan bahwasanya kelak Nabi Isa as. akan menunaikan shalat berjamaah di belakang imam yang muncul di akhir zaman menjelang hari kiamat, untuk itulah menurutnya bumi Tuhan tidak mungkin kosong dari hujjah-Nya. [35]
7- Syamsudin Sakhawi (w. 902 H.). Sejak lama sebagian ulama menyebutnya termasuk tokoh yang secara tegas mengakui kemutawatiran hadis tentang Imam Mahdi af., contohnya adalah Allamah Syekh Muhammad Arabi Fasi di dalam kitab "Al-Maqôshid” dan Abu Zaid Abdurrahman bin Abdulqadir Fasi di dalam kitab "Mabhaj Al-Qôshid”, lalu hal itu dinukil oleh Abu Faidh Ghimari dari mereka, [36] demikian pula oleh Abu Abdillah Muhammad bin Ja'far Katani (w. 1345 H.) di dalam kitab "Dur An-Nadzm Al-Mutanâshir min Al-Hadîts Al-Mutawâtir”.
8- Suyuthi (w. 911 H.). Sebagaimana dinukil oleh Ghimari, Suyuthi baik di dalam buku tebalnya yang berjudul "Al-Fawâ'id Al-Mutakâtsiroh fî Al-Ahâdîts Al-Mutawâtiroh”, maupun di dalam buku ringkasnya yang berjudul "Al-Azhâr Al-Mutanâtsiroh”, begitu pula di dalam karya-karyanya yang lain telah menyatakan keyakinannya akan kemutawatiran hadis mengenai Imam Mahdi af. [37]
9- Ibnu Hajar Haitami (w. 974 H.). Berkali-kali dia mengungkapkan pembelaannya atas kepercayaan muslimin tentang munculnya Imam Mahdi af., dan dia juga menyatakan hadis tentang beliau sebagai hadis yang mutawatir. [38]
10- Muttaqi Hindi (w. 975 H.). Penulis kitab populer "Kanz Al-‘Ummâl” ini membela kepercayaan tentang Imam Mahdi af. secara argumentatif. Di antara poin penting yang diungkapnya dalam kitab itu adalah fatwa yang dikeluarkan oleh empat penghulu mazhab Ahli Sunnah di Mekkah; mengenai orang yang menolak kepercayaan tersebut; yaitu fatwa Ibnu Hajar Haitami dari kelompok Syafi'i dan fatwa Syekh Yahya bin Muhammad dari kelompok Hanbali yang memutuskan bahwa orang yang mengingkari kemunculan Imam Mahdi af. harus dihukum cambuk dan dihinakan agar dia mengambil pelajaran dari kekeliruannya seraya sadar kembali ke jalan yang benar, dan sekiranya dia tetap membangkang maka terpaksa dia harus dihukum mati. [39] Dan siapa saja yang mencermati fatwa-fatwa mereka niscaya akan sampai kepada kesimpulan bahwa mereka menyepakati kemutawatiran hadis tentang Imam Mahdi af.
11- Muhammad Rasul Barzanji (w. 1103 H.). Dia mengungkapkan pendapatnya mengenai hadis tentang Imam Mahdi af. sebagai berikut, 'hadis-hadis tentang keberadaan Mahdi as. dan kebangkitan beliau di akhir zaman, dan bahwasanya beliau berasal dari Ahli Bait Nabi saw. serta keturunan Fatimah Zahra as. adalah sampai pada tigkat hadis yang mutawatir dan sama sekali tidak ada celah bagi siapa pun untuk mengingkarinya.’ [40]
12- Syekh Muhammad bin Qassam bin Muhammad Jassus (w. 1182 H.). Kattani meriwayatkan pernyataan dia mengenai kemutawatiran hadis tentang Imam Mahdi af. [41]
13- Abu Ala' Iraqi Fasi (w. 1183 H.). Dia telah mengarang banyak buku tentang Imam Mahdi af., dan Kattani menukil pernyataan dia tentang kemutawatiran hadis seputar Imam Mahdi af. [42]
14- Syekh Safariyini Hanbali (w. 1188 H.). Qanuji mengatakan, 'Safariyini di dalam kitab "Al-Lawâ'ih” mendukung pendapat yang mengatakan hadis tentang Imam Mahdi af. adalah mutawatir.’ [43]
15- Syekh Muhammad bin Ali Shabban (w. 1206 H.). Dia menukil pendapat kemutawatiran hadis tentang Imam Mahdi af. dari kitab "Al-Showâ‘iq Al-Muhriqoh” Ibnu Hajar sekaligus menyebutkan bukti-buktinya dan sama sekali tidak menyanggahnya. Sikap ini membuktikan kesepakatan dia terhadap pendapat tersebut. [44]
16- Syaukani (w. 1250 H.). Untuk membuktikan bahwa dia menyakui kemutawatiran hadis tentang Imam Mahdi af., cukup dengan menengok buku populer dia yang berjudul "Al-Taudhîh fî Tawâtur Mâ Jâ'a fî Al-Muntadzor wa Ad-Dajjâl wa Al-Masîh”. Begitu gamblangnya hal tersebut sehingga tidak perlu lagi pada bukti yang lain.
17- Mukmin bin Hasan bin Mukmin Syablanji (w. 1291 H.). Di sela-sela pernyataannya akan kemutawatiran hadis tentang Imam Mahdi af., dia menekankan bahwa beliau termasuk Ahli Bait dan keturunan Rasulullah saw. [45]
18- Ahmad Zaini Dahlan, mufti mazhab Syafi'i (w. 1304 H.). Sehubungan dengan jumlah hadis tentang Imam Mahdi af., dia mengatakan, 'begitu banyaknya perawi hadis-hadis ini sehingga sebagian dari hadis itu menutupi kekurangan sebagian hadis yang lain dan memperkuatnya, itulah kenapa siapa pun tidak bisa mengingkarinya.’ [46]
19- Sayid Muhammad Siddiq Hasan Qanuji Bukhari (w. 1307 H.). Dia mengomentari hadis tentang Imam Mahdi af. dengan 'bahwa meskipun terdapat perbedaan di antara hadis-hadis itu, akan tetapi jumlahnya yang banyak sekali telah mengangkat hadis-hadis itu sampai tingkat mutawatir.’ [47]
20- Abu Abdillah Muhammad bin Ja'far Kattani Maliki (w. 1345 H.). Setelah menukil pendapat sebagian ulama mengenai kemutawatiran hadis tentang Imam Mahdi af., dia mengatakan, 'hadis tentang Mahdi Muntadzor adalah mutawatir.’ [48]
Masih banyak lagi selain dua puluh tokoh tersebut yang mengakui hadis tentang Imam Mahdi af. sebagai hadis yang sahih bahkan mutawatir, namun ruangan terbatas artikel ini tidak sanggup untuk memuat semua nama dan pernyataan mereka. Jika Anda berminat untuk mengetahuinya lebih detil, maka kami telah menuliskan nama-nama mereka dari abad ketiga hijriah sampai abad terakhir di dalam kitab "Difâ‘ ‘an Al-Kâfî”, jilid 1, hal. 343 – 405.
Kami tertarik untuk menutup ulasan singkat ini dengan menukil kata-kata Ustad Badiuz Zaman Sa'id Nawarsi yang merupakan tokoh ternama Ahli Sunnah pada abad ke-14 Hijriah, dia mengatakan:
'Di belahan dunia mana pun, tidak ada orang terhormat, terpercaya, dan mulia yang mencapai tingkat kemuliaan dan keutamaan Ahli Bait Nabi. Di belahan dunia mana pun juga tidak bisa ditemukan sekelompok orang yang sependapat, sehati, dan sejalan seperti halnya keluarga yang pernah diselimuti bersama Nabi Muhammad saw. –yakni beliau, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain as.-. Di mana pun juga di dunia ini, tidak ada himpunan yang bercahaya terang benderang seperti keluarga suci atau Ahli Bait Nabi saw.
Sungguh benar! Ahli Bait Nabi as. senantiasa mengenyam hakikat Al-Qur'an, meneguk sumber jernih wahyu, dan bersinar dengan cahaya iman serta kesucian syariat Islam sehingga mereka mendaki sampai puncak kesempurnaan samawi dan tanaman indah mereka membuahkan para pejuang yang tidak kenal lelah dan pemimpin spiritual ruhani yang berusaha sekuat tenaga untuk memberi petunjuk jalan kepada umat di seluruh penjuru dunia. Maka sudah barang tentu dengan kebangkitan pemimpin agung dari mereka, yaitu Mahdi yang agung, keadilan universal akan dianugerahkan kepada umat manusia. Ketika itulah kebenaran dia akan terbukti dengan penyemian kembali syariat Allah swt., hakikat Al-Qur'an, dan sunnah Nabi Muhammad saw., serta penerapannya secara menyeluruh. Hal ini bukan saja merupakan sebuah keniscayaan, melainkan juga merupakan sesuatu yang betul-betul rasional dan satu-satunya tuntutan undang-undang kehidupan sosial semua perkumpulan manusia di alam semesta.’ [49]
Referensi: Dar Intidzore Quqnus, Tsamir Amidi, diterjemahkan oleh Mahdi Ali Zadeh, hal. 65 – 80.

1. Ustad Ali Muhammad Ali Dakhil menyebutkan 30 buku Ahli Sunnah tentang masalah ini di dalam bukunya yang berjudul "Al-Imâm Al-Mahdî", di halaman 259 – 265. Sementara Ustad Dzabihullah Mahallati di dalam karyanya yang berjudul "Mahdîu Ahl Al-Bayt", halaman 18 – 21 menyebutkan empat puluh kitab tentang Imam Mahdi af. berikut nama para penulisnya. Dia juga menyebutkan sampai 110 kitab Syi'ah tentang Imam Mahdi af. Dan masih banyak lagi kitab-kita terkait yang tidak tercantum di dalam dua buku tersebut.
2. Ibrôz Al-Wahm Al-Maknûn min Kalâm Ibn Kholdûn, hal. 437
3. Jika ingin tahu lebih lanjut riwayat para sahabat mengenai Imam Mahdi af. maka lihatlah kitab "Mu‘jam Ahâdîs Al-Imâm Al-Mahdî" (5 jilid) yang menjelaskan seluruhnya baik berdasarkan literatur hadis Ahli Sunnah maupun Syi'ah.
4. Ibrôz Al-Wahm Al-Maknûn min Kalâm Ibn Kholdûn, hal. 438.
5. Sunan Al-Tirmidzî, jilid 4, hal. 505, hadis ke2230 dan 2231; hal. 504, hadis 2233. dia juga menyebutkan hadis yang keempat seraya menghukuminya sebagai hadis yang hasan. (jilid 4, hal. 506, hadis ke2232.).
6. Aqili, Al-Dhu‘afâ'Al-Kabîr, jilid 3, hal. 253, no. 1257, biografi Ali bin Nufail Harati.
7. Hakim Nisyaburi, Mustadrok Al-Hâkim, jilid 4, hadis ke439, 465, 553, dan 558.
8. Hakim Nisyaburi, Mustadrok Al-Hâkim, jilid 4, hadis ke450, 557 dan 558. Imam Bukhari menetapkan dua syarat untuk kesahihan sebuah hadis, yaitu nara sumber riwayat dan periwayat yang berikutnya harus hidup semasa, lalu metode periwayatannya juga berupa pendengaran dan bukan yang lain. Adapun menurut Imam Muslim, syarat yang pertama sudah cukup. (Dr. Subhi Shaleh, 'Ulûm Al-Hadîs wa Mustholahuhu, hal. 299 – 301.).
9. Hakim Nisyaburi, Mustadrok Al-Hâkim, jilid 4, hadis ke429, 442, 457, 464, 502, 554 dan 557.
10. Baihaqi, Al-I‘tiqôd wa Al-Hidâyah, hal. 127.
11. Baghawi, Mashôbîh Al-Sunnah, hal. 448, hadis ke4199.
12. Baghawi, Mashôbîh Al-Sunnah, hal. 492 dan 493, hadis ke 4310 – 4213 dan 4215.
13. Ibnu Atsir, Al-Nihâyah, jilid 5, hal. 254.
14. Qurthubi, Al-Tadzkiroh, hal. 704, bab 'mâ jâ'a fî al-mahdî.
15. Qurthubi, Al-Tadzkiroh, hal. 701.
16. Ibnu Taimiyah, Minhâj Al-Sunnah, jilid 4, hal. 311.
17. Dzahabi, Talkhîsh Al-Mustadrok, jilid 4, hal. 553 dan 558.
18. Ganji Syafi'i, Al-Bayâ fî Akhbâr Shôhib Az-Zamân, hal. 481. Dan sumber dua hadis yang dikomentarinya itu adalah: Tirmidzi, Sunan, jilid 4, hal. 505.
19. Ibnu Qayim, Al-Manâr Al-Munîf, hal. 130 – 135, hadis ke 326, 327, 329 dan 331.
20. Ibnu Katsir, Al-Nihâyah fî Al-Fitan wa Al-Malâhim, jilid 1, hal. 55.
21. Ibid. hal. 56.
22. Taftazani, Syarh Al-Maqôshid, jilid 5, hal. 312.
23. Haitsami, Majma‘ Az-Zawâ'id, jilid 7, hal. 313 – 314.
24. Ibid. hal. 115.
25. Ibid. hal. 116.
26. Ibid. hal. 117.
27. Suyuthi, Al-Jâmi‘ Al-Shoghîr, jilid 2, hal. 672, hadis ke 9241, 9244, dan 9245.
28. Albani, Haula Al-Mahdî, hal. 644; artikel yang dimuat oleh At-Tamaddun Al-Islâmî, cetakan Damaskus, pada tanggal 22 Dzul Qa'dah 1371 H.
29. Al-Ihtijâj bi Al-Atsar ‘alâ Man Ankaro Al-Mahdî Al-Muntadzor, hal. 28.
30. Qurthubi, Al-Tadzkiroh, jilid 1, hal. 701.
31. Ibid. Tafsîr Al-Qurthubî, jilid 8, hal. 121 – 122.
32. Mazzi, Tahdzîb Al-Kamâ, jilid 25, hal. 146, no. 5181.
33. Ibnu Qayim, Al-Manâr Al-Munîf, hal. 135.
34. Tahdzîb Al-Tahdzîb, Ibnu Hajar Asqalani, jilid 9, hal. 125, no. 201.
35. Fath Al-Bârî bi Syarh Al-Bukhôrî, Ibnu Hajar Asqalani, jilid 6, hal. 385.
36. Al-Mahdî Al-Muntadzor, Ghimari, hal. 9.
37. Ibrôz Al-Wahm Al-Maknûn, Ghimari, hal. 436.
38. Al-Showâ‘iq Al-Muhriqoh, pasal 1, bab 11, hal 162 – 167.
39. Al-Burhân ‘alâ ‘Alâmât Mahdî Âkhir Az-Zamân, hal. 178 – 183.
40. Al-Isyâ‘ah li Asyrôth As-Sâ‘ah, Muhammad Rasul Barzanji, hal. 87.
41. An-Nadzm Al-Mutanâtsir min Al-Hadîts Al-Mutawâtir, Kattani, hal. 226, no. hadis 289.
42. An-Nadzm Al-Mutanâtsir min Al-Hadîts Al-Mutawâtir, Kattani, hal. 226, no. hadis 289.
43. Al-Idzâ‘ah, Qanuji, hal. 146.
44. Is‘âf Al-Rôghibîn, Shabban, hal. 145, 147 dan 152.
45. Nûr Al-Abshôr, Syablanji, hal. 187 dan 189.
46. Al-Futûhât Al-Islâmiyah, Ahmad Zaini Dahlan, jilid 2, hal. 211.
47. Al-Idzâ‘ah, hal. 112.
48. An-Nadzm Al-Mutanâtsir, Kattani, hal. 225 – 228, no. hadis 289.
49. Asyrôth As-Sâ‘ah (Syu'a kelima dari Rosâ'il An-Nûr), Nawarsi, penerjemah: Ihsan Qasim Salehi, hal. 37 – 38.





Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
3+7 =